PRASANGKA
oleh Imron Rosadi
Kadang hal yang sederhana tersimpan berjuta makna. Apabila kita mau merasakan dan meresapinya. Seperti halnya, seuntai bunga yang merekah, cantik dan menawan. Namun, butuh ribuan detik sebelum senyum mekarnya mengindahkan dunia. Bahkan, sang pencuri madu tak sempat memujanya. Saat senja terbangun dan bulan mulai terlelap. Ia dengan malu-malu menjajakan tubuhnya untuk digilir lebah nakal. Lebah madu yang nakal dan bersayap, hinggap dari satu tangkai ke tangkai lain tanpa rasa setia. Menodai kehormatan dan kesucian para bunga. Lebah bersayap yang tak bermoral. Begitulah mata menilai para lebah saat hinggap menggilir kehormatan bunga.
Begitulah hal kecil dan sederhana yang aku pikirkan ketika mataku berhadapan dengan para lebah nakal dan bersayap. Terbang dan hinggap seenaknya pada bunga-bunga yang berada tepat di depan tempatku duduk. Dengan kedua sayapnya, mereka terbang menyapaku dengan senyum tersungging di bibirnya. Seolah terlihat tanpa dosa, bahkan memasang wajah manis, polos, dan menggemaskan. Aku tak percaya begitu saja. Bagiku, para lebah tetaplah lebah, yang merenggut kehormatan bunga dan tak bermoral. Lebah yang tak berkultur. Di balik parasnya yang manis, lebah bersayap ini ibarat hewan berbulu domba. Bentuknya indah menawan, beraneka warna, penuh pesona, gagah dan lagi perkasa. Tetapi, sejatinya ia menyimpan racun yang mematikan.
Dari tempat dudukku, aku terus memandangi mereka dengan penuh heran. Rasa heranku semakin memuncak saat para lebah bersayap ini mulai berhamburan pergi. Seolah tak punya rasa tanggung jawab. Hanya mengambil madunya, lalu mencampakannya begitu saja.
Pagi itu, sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan taman dengan beraneka jenis bunga. Bersama keindahan dan kesejukan hamparan bunga itu, aku mulai menyadari hal kecil dan sederhana. Sesuatu yang membuat aku kagum. Sesuatu yang harusnya aku pahami lebih dini. Sesuatu yang mengajarkanku arti sebuah ketulusan dan penantian. Sesuatu yang membuat para lebah rela menghabiskan waktunya demi sebuah hasrat. Setelah menunggu berhari-hari untuk sebuah kelopak bunga yang merekah. Mereka habiskan paginya untuk menyempurnakan mahkota bunga dengan cinta.
Aku baru sadar, betapa tulus dan ikhlas perjuangan para lebah demi menyempurnakan penyerbukan dalam bingkai cinta dan ketulusan. Bagaimana bisa, lebah yang berhati suci dan bersih kita anggap tak bermoral. Padahal merekalah yang berjuang tanpa pamrih untuk keutuhan para bunga. Inilah cinta sejati lebah dan bunga yang bertasbih di waktu pagi. Sebuah pesan sederhana yang bunga sampaikan lewat mekarnya, tanpa kata, tanpa suara, tapi bisa dipahami sempurna oleh pencintanya. Inilah hakikat sebuah cinta dan mencintai.
Kita dapat mengambil hikmah dari seekor lebah. Kadang hidup bukanlah tentang melihat fisik luarnya, lalu menilai dalamnya. Kadang-kadang dalam proses kehidupan perlu pesimis sebelum optimis, mundur selangkah untuk meloncat beberapa langkah. Lalu, berhenti sejenak dan menenangkan jiwa untuk melangkah kembali dengan pikiran yang jernih. Kembali berpikir positif dalam membangun semangat, menyusun strategi, dan menargetkan hasil yang optimal. Keberhasilan didapatkan setelah mencoba berkali-kali dengan usaha maksimal. Bukan duduk sembari berangan-angan tanpa tindakan.
“Cinta itu semangat.
Dan,
semangat terindah diri adalah
mencintai….”
Imron Rosadi

